Kesadaran

Oleh: David Goh
Balikpapan, April 2007

Salam Sejati

Saya bukan seorang penggagum yang belajar khusus kepada Anand Krishna, dan tidak ada salah nya membagikan yang baik menurut versi saya. Dan bagi saya semua guru harus di hormati. Termasuk semua guru-guru yang lain…

3 tahun yang lalu jalan ke gramedia dan melhat buku dan singkat saya beli, sub judul Seni Memberdaya Diri 2 (SMD). ”MEDITASI” Untuk Peningkatan Kesadaran. Sore kemarin setelah sampai di rumah teringat dari Bapak Anattagotama, untuk minta sharingkan, saya kemudia bongkar koper dan menemukan kembali buku yang 3 tahun saya baca. Saya baca ulang mulai 18:30 – 21:00, untuk merefresh kembali.
oursujud.jpg
Buku ini dimulai dengan kata –kata

J. Krishnamurti – dikutip dari Meditation, Shambala , 1991, @Krishnamurti Foundation 1979. Intinya: ”Meditasi menuntut kerja keras. Meditasi menuntut disiplin yang sangat tinggi. Bukan penyesuaian, bukan peniruan, buka pula kepatuhan, tetapi disiplin lahir dari kesadaran……… …. Tanpa Kesadaran akan jati diri, meditasi kehilangan artinya”

Osho – dikutip dari What is Meditation, Element Books Ltd, 1995 @Oasho International Foundation 1995. Intinya: “…………… …….. Meditasi berarti melampaui keinginan. Melampaui thoughts dan mind. Meditasi berarti menikmati kekinian, hidup dalam kekinian………… ……… Yang melarikan diri dari kehidupan, sebenarnya mind dan keinginan”

Anthony de Mello – dikutip dari Sadhana, Kanisius 1980, @ Kanisius 1980 Isinya: “kita perlu meratapi kehilangan yang kita derita, kita perlu merasakan kemarahan dan kekecewaan kita, sebelum memuji Tuhan serta membuka hati untuk menerima hiburan dan kedamaian-NYA.”

Hazrat Inayat Khan – dikutip dari The Divinity of the Human Soul, 1990. @ International Headquaters of the sufi Movement. Isinya:
“Apa yang berasal dari luar bukanlah Intuisi. Instuisi adalah sesuatu yang berasal dari dalam diri sendiri dan memberikan kepuasan, kelegaan dan kebahagiaan… Jika mind tidak menjadi penghalang, setiap orang akan menjadi intuitif. Seseungguhnya intuisi jauh lebih alami dan mudah diperoleh daripada logika yang di kejar oleh mind”

G.I Gurdjieff – dikutip dari Views from the Real World. Ankara 1984 @ Triangle edition, Inc, 1973.. intinya: “ tindakan konsentrasi itu tidak baik jika saudara biasakan, karena hakikatnya menguatkan kemauan hati saudara, sedangkan hati itu merupakan sarang dari nafsu.. ……. …. … Pencerahan tidak dapat di peroleh dengan mind. Apabila diperoleh dengan mind, itu tidak berguna sama sekali.”

BUKU ini sendiri (Karya ini) khusus dipersembahkan kepada: HERMANN HESSE (1877 – 1962) dan OSHO (1931 -1990) Mereka adalah sumber inspirasi utama dalam penyusunan buku ini.

Buku ini berisi setebal 242 halaman.
Banyak mengajarkan tentang Meditasi versi ” Ananda’s”

Saya akan menulis kembali saja yang ada di buku.

SIDDHARTHA sendiri di ceritakan menjadi 3 bagian dalam buki ini. Dan buku ini telah di baca AK 30 tahun yang lalu

Bagian Pertama: MENCARI JATI DIRI
– cerita tentang Siddhartha adalah Putra seorang Pendeta
– mengikuti Bersama Para Samana
– Bertemu dengan Gotama
– Mendapatkan Kesadaran

Bagian Dua: MENGOLAH DIRI
– Belajar Seni cinta kepada KAMALA
– Masuk dalam Di tengah keramaian dunia
– Samsara

Bagian Tiga: Menggapai Kesempurnaan
– mengenai sungai
– Tukang Tambang yang telah tercerahkan
– Sang Anak
– Om (suara Om)
– Govinda

Sedikit Kutipan Dari Buku ini:

Kesadaran

Pertemuan dengan Sang Buddha meninggalkan bekas yang tak akan pernah terlupakan oleh Siddhartha. Goresan-goresan baru pada batinnya akan ia kenang selalu. Yang jelas, ia terbebaskan dari keinginan untuk mencari seorang guru, seorang pembimbing – juga dari keinginan untuk mencari suatu ajaran baru.

Ia telah bertemu dengan seorang Guru yang paling bijak. Ia sadar sepenuhnya Sang Buddha tidak tertandingi. Tidak, ia tidak akan mencari guru lagi.

Ia mulai melakukan perenungan. Upayanya untuk melepaskan diri dari ”Aku” ternyata sia-sia. Selama itu, ia hanya melahirkan diri dari ”Aku” ternyata sia-sia. Selama itu, ia hanya melarikan diri dari ”Aku”. Al-hasil, ia mengetahui begitu banyak tentang dulia luar, tetapi begitu sedikit tentang dirinya sendiri – tentang Siddhartha.

Ia menyimpulkan bahwa pelarian diri itu terjasi, karena ia takut pada dirinya sendiri. Kemudian ia mencari pembenaran, dan selalu berupaya untuk emnyembunyikan rasa-takutnya di balik pengetahuan dan kecerdikan.

Kesimpulan itu membuat dia hidup kembali. Seakan-akan jiwanya yang sudah lama sekarat mendapatkan tiupan nyawa baru. Ia tidak akan mencari lagi. Ia akan belajar dari dirinya sendiri dari Siddhartha.

Tiba-tiba dunia sekitarnya berubah menjadi indah sekali. Selama itu, ia buta, sehingga tidak dapat menikmati keindahan dunia.

Kemudian ia berpikir, apa yang harus dilakukan. Ia bukan putra seorang pendeta lagi – rumah itu sudah ia tinggalkan jauh di belakang. Ia bukan seorang Samana lagi. Ia hanyalah seorang Siddhartha. Untuk pertama kalinya ia sadar akan ke-”Siddhartha”-annya.

Govinda telah bergabung dengan para bikshu. Ia telah menentukan jalan hidupnya. Sekarang giliran dia harus menentukan jalan hidupnya sendiri. Tidak, ia tidak akan menoleh ke belakang. Ia tidak akan mundur. Ia akan berjalan terus. Ia akan melangkah ke depan…

Buku ini ditutup dengan sebuah cerita:

Apa gunanya meditasi yang anda ajarkan? Yang belajar pun belum sadar juga….. demikian kata pemilik industri deterjen, kepada seorang master.
Sang master tersenyum dan mengajak penanya tersebut ke taman di seberang padepokannya, ” lihatlah anak-anak itu. Merekla sedang bermain dengan lumpur. Baju mereka begitu kotor.”
”Ya, saya sedang memperhatikan mereka” ”lantas apa gunanya kamu memproduksi dengan menjual ditergen? Baju mereka toh tetap kotor juga” tanya sang Murshid.
”Ya, baju mereka kotor. Baju mereka bisa kotor dan justru karena itu diterjen dibutuhkan” jawab si industrialis. ”Dan karena itu pula saya mengajarkan mesitasi. Manusia tidak sadar. Manusia bisa tidak sadar. Justru karena itu, meditasi dibutuhkan.”

Demikian buku yang saya baca…. tidak tahu rangkuman atau apa, semoga terispirasi.

”biarlah yang mengerti, mengertilah”

Salam Sejati

“Siapa yang bersungguh-sungguh,
akan menemukan yang dicarinya”

Kesadaran
Gantharwa