Pertemuan saya dengan Kyai Ganjel
Oleh: Kadang Paulus

Poro Kadang Kinasih,

Pada hari Senin malam atau selasa pagi tanggal 6 September 2005 sekitar jam 00.30, saya sedang ngobrol dengan seorang kawan saya di Bogor. Pada jam tersebut dalam obrolan kami tiba-2 menyinggung ke Pak Joko (Kyai Ganjel, guru kita yang kita hormati dan cintai).
Tetapi yang aneh adalah bahwa pada saat itu saya sampai merinding luar biasa dan ternyata kawan saya juga merasakan hal yang sama, dan kami sepakat bahwa pada saat itu perasaan kami sama mengatakan bahwa Pak Joko hadir dalam diskusi kami, tetapi yang aneh adalah bahwa pada saat itu perasaan kami juga sepakat bahwa Pak Joko dalam keadaan sangat sedih, seolah minta dibantu.

Setelah kami merenung, kami sepakat bahwa kami akan membantu Pak Joko, maka pada Jumat yang lalu kami bikin selamatan untuk Pak Joko, yang intinya kami berdo’a mohon kepada Yang Maha Kuasa agar jiwa beliau diberkati, diampuni, dan dibimbing ke jalan Kerajaan Allah.

Dalam masa kami berdoa bersama (selamatan) tersebut kembali Pak Joko hadir dengan perasaan gembira dan kemudian tidak tahu tiba-tiba saya ingin mencuci muka, dan setelahnya kemudian saya duduk kembali merenung tetapi ada perasaan belum cukup maka saya mencuci tangan saya, kembali duduk dan merenung tetapi ternyata ada timbul perasaan belum cukup bersih dan seolah saya ingin mandi. Maka saya merendam kaki saya di kolam yang dimiliki oleh kawan saya yang berada di depan rumahnya dan itu saya lakukan cukup lama, dan sambil saya mencoba merenungkan serta mencoba menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Kembali perasaan saya diliputi perasaan aneh yang mengatakan
bahwa: itu hanya sebagai simbul akan sebuah pertobatan, Pak Joko seolah hadir dalam permenungan saya dan beliau mengajak saya untuk bertobat. Apakah ini merupakan pesan pribadi kepada saya saja atau kepada semua keluarga gantarwa? timbullah pertanyaan yang saya simpan sampai sekarang karena sebenarnya tadinya hal ini saya ingin keep sebagai pengalaman pribadi saya saja, tetapi kembali ada dorongan yang cukup kuat agar hal ini juga disampaikan kepada rekan2 gantarwa, maka kemudia aku buka email dan menuliskan semua ini.

Intinya adalah ajakan untuk bertobat bagi semua, bahkan dalam pertemuan saya dengan Pak Joko, dia sungguh terlihat sedih (sangat sedih), dan ternyata beliau mengajak kita untuk bertobat (termasuk beliau sendiri juga bertobat, agar diberi jalan terang dan kekuatan dalam jalan salib yang sedang dijalaninya).

Untuk itu, saya ingin mengajak kawan2 untuk turut mendoakan jiwa Pak Joko agar beliau diberi diampuni atas segala kelemahan, kekurangan dan kesalahan2 nya dan diberi jalan terang serta damai menuju Allah Tuhan kita. Kebetulan sekarang ini adalah bulan Ruwah, atau bagai orang jawa biasanya digunakan untuk pergi ke kuburan para leluhur untuk nyekar, karena bulah ruwah adalah bulan arwah.

sumonggo,

Paulus
12 September 2005

Tanggapan 1:
Oleh: Kadang Kartiko Samudro

Ada 2 persepsi yang berbeda…
> Pak Joko sedih karena dosa kita dan kita yang enggak mau
> bertobat…atau Pak Joko sedih karena kesalahannya dan dia ingin
> bertobat dan mengajak kita bertobat…
> pertanyaannya bertobat terhadap apa..?

Tanggapan 2:
Oleh: Kadang Oskar P

saya cenderung sepakat dengan mas ferdi…kalo pak joko punya salah lantas bertobat untuk apa ya…?mungkin cuma pak joko yang tahu…yg pasti sih pertanyaannya apakah kita sudah menjadi seorang gantharwa sejati dengan menjalankan 3 janji gantharwa
yaitu:
1. Mengutamakan kemanunggalan dalam gantharwa, 2. Meningkatkan kawruh dan laku 3. Setia dan tekun…(alias setia pada kebenaran) apakah kita sebagai kadang sinarawedi sudah bertingkah laku sebagai kadang sinarawedi..?
Karena berdasarkan tirakat saya selama 8 tahun bergabung di Gantharwa, tidak ada yang salah dengan Gantharwa,,, atau TAMBURA MANINTEN AJA mas,,,, kalo belum puas, saya minta nasehat mas atmo aja…

Tanggapan 3:
Oleh: Kadang Dandun

Kalau pendapat saya, beliau sedih karena kita banyak berbuat salah sehingga kita perlu untuk bertobat. Hal ini juga berlaku buat saya pribadi, dimana saya pikir saya sudah cukup dekat dengan ajaran beliau, saya lebih tinggi ilmunya diabnding manusia biasa. Tetapi ternyata tidak.

Hari Kamis minggu lalu, setelah doa pagi jam 6 , lalu berangkat kerja. Baru keluar komplek dah macet minta ampun. Angkot sodok kanan sodok kiri, bikin kesel karena nggak mau antri. akhirnya panas juga hati, sehingga nggak aku kasih jalan waktu ada angkot yang mau nyodok, dan dengan sengaja punya niat ngasih pelajaran, aku senggolin aja spion mobilku dengan spion mobilnya. ujung-ujungnya ribut deh. Sampai di kantor juga masih kesel.

Namun setelah aku renungkan kembali, rasanya ada perasaan yang malu banget dengan peristiwa itu. Ternyata aku masih sekelas dengan sopir angkot itu. Dan ternyata selama ini aku makin menjauhi ajaran Gantharwa. Maka aku rasa aku perlu bertobat. Dan terimakasih pula dengan tulisan Pak paulus, yang menambah keinginan saya untuk kembali mendekati ajaran Gantharwa.

Salam Ganjel

Tanggapan 4:
Oleh: Kadang Kartiko Samudro

he..he..
Mas Dandun udah mulai kerja dan punya anak ya…?
Emang saya juga ngerasa jauh sejak kerja dan punya anak…kadang
emang kesibukan duniawi ini buat kita lupa….
jadi inget dulu ada murid gantharwa yang tanya gimana caranya supaya
ilmu gantharwanya bisa berkembang maksimal, dan setelah dicek sama
Pak Joko dibilangin supaya murid itu jangan nikah…tapi kalau
enggak salah murid itu tetap nikah dan sekarang sudah punya anak deh.
Tapi mungkin logis juga karena kalau kita sendirian bisa full time
berguru dan berbakti sedang kalau punya istri dan anak…? harus
kerja , cari uang , ngurusin anak – anak dsb…

Yang penting juga mungkin hubungan kita dengan para kadang sehingga
bisa saling mengingatkan…kalau enggak bisa nyasar kemana-mana…

Waktu cuti di jakarta sempat ke paranormal di kedoya…dia punya
banyak murid juga ..tapi setelah beberapa lama diskusi dan tukar
pikiran ternyata jauh pengertiannya dan ilmunya dari Gantharwa…..
Kok saat itu saya ngerasa kayak diingatkan lagi…udah dapat yang
97% bener kok nyari yang lain…

Kemarin malam ngimpi juga..ketemu Pak Joko…masih dengan gaya
cengar – cengirnya…
“ngomong masalah permintaan terbesar..” Pak Joko bilang “minta
supaya Tuhan bersatu dengan kita”…terus dalam minta pakai
licensi…supaya Tuhan masuk..kok malah Pak Joko yang masuk..sempet
ngomel dan enggak percaya …”lho kok Pak Joko yang masuk…? terus
doa lagi baru Yesus masuk setelah Pak Joko…terus ditunjukin
masalah panggilan…yang rada bingung kok panggilan saya lain dari
yang gue bayangin ya…? udah 2 kali gue bermimpi yang sama tentang
panggilan, dalam mimpi panggilannya sama dengan mimpi yang
seb elumnya tapi saya masih bingung and life goes on dulu dah…

Tanggapan 5:
Oleh: Kadang Oskar P

saya setuju mas, supaya kita harus tetap saling mengingatkan….kalo ada apa2 tentang gantharwa kan kita punya mas atmo sebagai bemper baru..he….he….becanda mas… :), jadi segala sesuatunya bisa diselesaikan bareng-bareng dan juga bisa sambil sharing nambah pengertian….

Pertemuan saya dengan Kyai Ganjel

Comments are closed.

Gantharwa