SUMELEH ADALAH SUATU KETOLOLAN KALAU PASIF
OLEH: Kiai Pager Rasa

Kita sering mendengarkan bahwa jika seseorang mengalami masalah atau hal yang berat, dan akhirnya mereka atau orang yang di sekitar mereka akan mengatakan atau memberikan nasehat untuk pasrah saja pada yang di Atas. Atau juga pasrah pada Tuhan saja. Hal ini terus diterjemahkan tidak usah melakukan apa-apa dan tidak usah untuk repot. Pendapat demikian menjadi umum.

Apakah memang harus demikian adanya bahwa kepasrahan yang pasif demikian menjadikan manusia menjadi bodoh dan tidak bertanggung jawab. Pasrah demikian adalah pasrah yang tidak berkawruh atau tidak mengerti alias tolol.

Pasrah atau Sumeleh pada Gusti Allah dalam arti yang sebenarnya adalah menjadi manusia yang aktif dan penuh inovatif akan rencana Gusti Allah. Bukan malah diam atau seolah-olah dianggap tidak terjadi apa-apa, itu adalah kecenderungan yang berakibat manusia menjadi manusia yang penuh dengan ketololan.

Maka hendaklah Sumeleh/Pasrah Kesaning Gusti Allah artinya pada saat kita, Sumeleh dijadikan kekuatan karena sandaran pada Gusti Allah. Dan inilah saatnya kita untuk “Sendika Lan Nyuwun Dawuh” tentang apa yang akan diberikan oleh Gusti Allah untuk kita.

Janganlah menganggap Gusti Allah akan memberikan misi atau tugas yang besar-besar dan rumit, kita akan diberi yang kecil dulu baru yang besar. “Hendaklah kamu setia dari hal kecil, maka kamu akan setia pada hal yang besar”

Hal kecil adalah hal yang kita akan jalankan setia hari, mungkin kita akan hanya disuruh untuk bangun pagi, tidur tepat waktu, mandi, makan, jalan, dan banyak lagi. Barulah akan ada hal besar. Dari situlah maka kita baru layak disebut Manusia Mistik

“Manusia Mistik yang sebenarnya adalah Sumeleh pada Kehendak Gusti Allah.
Kehendak Gusti Allah adalah supaya manusia hidup dan tetap hidup
Hidup adalah menghidupi orang lain
Menghidupi adalah membuat manusia lain menjadi benar
Benar adalah Bertemu dengan Gusti Allah.”

SUMELEH ADALAH SUATU KETOLOLAN KALAU PASIF

Comments are closed.

Gantharwa